Showing posts with label silat indonesia. Show all posts
Showing posts with label silat indonesia. Show all posts

Sunday, July 27, 2008

Setahun Berjalan,

Banyak orang mungkin merasa prihatin akan perkembangan dan kemajuan budaya bangsa sendiri, termasuk Pencak Silat di dalamnya. Namun kelahiran sebuah wadah bernama Forum Pecinta dan Pelestari (Pencak) Silat Tradisional (FP2ST) merupakan suatu fenomena tersendiri yang bahkan tidak diduga oleh para penggasnya berkaitan dengan usaha pelestarian pencak silat tradisional. Untuk itu penting bagi kita semua agar kelahiran, perkembangan, kemajuan dan juga kelemahan forum menjadi pelajaran kita semua, khususnya bagi pihak-pihak yang memiliki kepedulian terhadap kelangsungan budaya leluhur bangsa: pencak silat. Sebuah pelajaran yang harus dipetik agar berguna bagi semua pihak untuk lebih melestarikan lagi pusaka leluhur ini.

Berawal dari berdiskusi (lihat kisah yang cukup lengkap dari sesepuh forum, Iwan—terlampir ) di dunia maya, kala itu masih bernama silat bogor— bersifat lebih terbuka sehingga banyak praktisi maupun pemerhati silat yang terlibat dan bergabung di dalamnya. Milis ini sendiri mengalami pasang surut..

Diskusi di milis itu berkisah tentang silat tradisional Jakarta (tenabang) sabeni yang kehadirannya semakin kurang dikenal dan dapat dikatakan berada pada tahap yang dikhawatirkan kelanggengannya. Dari sana dengan bantuan dan kebesaran hati Mas Eko, sebagian kecil anggota milis copy darat, bertemu di rumah beliau dan bahkan kemudian berlatih bersama ilmu silat tenabang sabeni. Dari sinilah kemajuan terus bergulir menjadi terbentuknya forum dan semakin berkembang…

Inilah salah satu hal yang membedakan; banyak orang yang prihatin dan ada juga yang menyuarakan pentingnya pelestarian pencak silat tradisional dalam bentuk kata-kata atau tulisan dengan jangkauan yang begitu terbatas; tapi sedikit yang kemudian mengambil tindakan lebih nyata melakukan sesuatu: bertindak, dalam bentuk yang sungguh nyata dan konkret. Yaitu berkumpul, berdiskusi, membentuk wadah dan berkerja dalam organisasi. Apalagi dijiwai oleh semangat yang tulus ikhlas, tanpa pamrih dalam lingkungan kebersamaan dan kekeluargaan.

Apa yang mendorong forum lebih berkembang?

Pertanyaan ini menggelitik penulis , tatkala menyadari bahwa satu tahun memang waktu yang tidak lama dan cepat berlalu dan dengan perkembangan yang demikian pesat dan mengejutkan.

Lalu faktor-faktor pada saja yang membuat FP2ST dapat berkembang dengan demikian pesat dalam mengejawantahan visi-misinya untuk pelestarian pencak silat tradisionil:

  1. Telah ada keperihatinan dan orang-orang yang mau berbuat sesuatu atas dasar keprihatiann itu. Tanpa adanya kesamaan pandangan tentang kondisi keprihatinan pencak silat tradisi; sulit untuk berbicara tentang pelestarian

  1. Wadah atau Organisasi :
  1. Adanya Wadah yang bagi mereka yang prihatin untuk berbuat sesuatu. Selama ini keprihatinan akan kondisi pencak silat tradisionil sudah banyak disuarakan di milis, forum diskusi dan sebagainya; namun tidak ada wadah yang jelas untuk menyatukannya dan mengubahnya menjadi sebuah roda kerja yang menggerakkan dan menjadi nyata
  2. Visi dan misi yang relative jelas dan spesifik. Yaitu untuk pelestarian pencak silat tradisional (yang pada awalnya lingkupnya jabodetabek). Sasaran yang hendak dituju sudah sangat spesifik terutama aliran yang hendak punah dengan criteria tertentu (lihat diskusi dan penjelasan soal ini dari Kang Kiki dan Mas Eko di milis). Dan umumnya larian ini belum terwadahi dalamIPSI. Dengan kejernihan ‘visi’ ini lingkup dan arah kerja dapat diletakkan pada posisi yang jelas yang pada akhirnya membimbing semua langkah ke depan.
  3. Adanya orang-orang yang dengan segala keterbatasannya memiliki komitmen, dedikasi dan kinerja yang sungguh patut diacungi jempol. Juga termasuk di dalam nya tokoh-tokoh yang mendukung seperti O’ong Maryono, Edy Nalapraya, dll
  4. Adanya kerja nyata dari wadah tersebut
  5. Suasana dan atmosfer kekeluargaan; keihlasan dan dengan tulus menjadi jiwa yang semakin menggulirkan kemajuan Forum

  1. Publikasi yang massal dan luas
  1. Publikasi dari internet. Sejak awal didirikannya Forum ini terkait dengan salah satu teknologi modern yaitu internet dan mailing list. Kehadiran website www.silatindonesia.com kemudian mengisi kekosongan informasi yang terkini dan update menyangkut pencak silat (tradisionil) Indonesia.

Selain website juga mailing list Silat Indonesia (tadinya silat Bogor); dan juga diskusi di berbagai milis dan webforum lainnya (seperti kaskus, wikimu,dll)

  1. Koran : kehadiran wartawan tempo Mas Amal (bersama dengan Mas Eko dan teman lainnya) jelas merupakan kontribusi yang berharga bagi publikasi pencak silat secara lebih luas dan massal yang dengan demikian dapat semakin mempopulerkan dan sekaligus memberikan citra yang lebih baik terhadap pencak silat
  2. TV: adanya Mas Aryanaz dan tim lainnya dari Trans TV dan TV pasti memberikan sumbangan yang tidak kecil bagi propaganda pencak silat tradisional dan juga keberadaan Forum pada khalayak ramai.
  3. Media lainnya : pada akhirnya semakin mendorong media lainnya untuk juga melakukan publikasi seperti : tabloid gaya hidup sehat senior, indosiar, tvri dan lain-lain .

  1. Pelatihan

Banyak kelemahan para pemerhati dan mereka yang prihatin akan nasib pencak silat tradisional adalah bahwa tidak ada tindak lanjut nyata sesudah publikasi yang demikian luas kepada masyarakat.

Langkah nyata ini adalah pelatihan bagi mereka yang berminat untuk melestarikan pencak silat tradisional. Dengan dibukanya kelas bagi para peminta untuk melakukan latihan (copy darat) bersama pastilah memberikan darah segar tersendiri bagi forum.

Karena disana merupkan kesempatan untuk berkumpul dengan lebih manusiawi dan bersentuhan dengan segala macam kekayaan manusia yang berdarah dan daging. Mulai dari latihan di rumahnya Mas Eko di pondok kelapa, latihan di padepokan dan juga di Cawang ; dengan menu yang beragam . Ada cingkrik goning, ada sabeni, ada cikalong dan paseban lama (kemudian meluas lagi gerak saka, margaluyu dan sabandar). Sehingga aspirasi yang demikian bervariasi dari masyarakat dapat ditampung.

  1. Diskusi yang rutin dan berkesinmabungan

Sebuah cara ilmiah yang secara rutin mempertemukan para praktisi silat dan semakin memperkaya wawasan akan keluasan pencak silat sekaligus mengikis kesempitan dan kefanatikan akan kebesaran aliran sendiri. Hasil diskusi ini tentu menjadi tulisan yang menarik untuk media massa dan internet.

  1. Jaringan : Buah dari publikasi dan diskusi adalah meluasnya jaringan Forum tidak hanya ke dunia pencak silat tapi juga beladiri lainya dan bahkan kepada badan-badan pemerintahan (pemkab Cianjur misalnya). Pada tahap awal jaringan ini lebih terbatas pada para milisier di silatbogor, beberapa tokoh silat (O’ong) dan juga IPSI di padepoakan pencak silat . Link ini semakin melebar ke praktisi dan master/sensei dari aikido/karate dan lain sebagainya yang menambah ‘kewibawaan’ forum.

  1. Kegiatan lain yang berkelanjutan : kegiatan ini baik disadari atau tidak menjadi perekat bagi semakin soldinya dan banyak memunculkan ide-ide yang brilian dan menggugah. Mulai dari rapat-rapat persiapan; pertemuan informal atau kunjungan antar sesame anggota forum, sms dan email-an antar anggota, hingga kegiatan jalan-jalan, survey lokasi, wisata silat, shooting dan wawancara dengan TV/radio…

Kelemahan: tempat kita berkaca untuk semakin diperbaiki

Selain tentu saja hal-hal yang menggembirakan, kita juga mesti memperhatikan beberapa hal yang menjadi kekurangan kita.

  1. Sumber Daya Manusia (SDM): terjadinya kekurangan dan pemerdayaan personil yang sudah ada, tetap merupakan persoalan yang patut diberi porsi khusus. Hal ini terkait dengan kelangsungan forum dalam jangka panjang dan regenarasinya.
  2. Kinerja wadah forum yang lebih rapi dan tersistematis menghadapi ledakan permintaan dan kemajuan akan informasi dan pelatihan pencak silat. Termasuk di dalamnya sumber daya finansial; yang kendati memiliki potensi besar, namun pengelolaan dan pertangungjawabannya bukan merupakan pekerjaan yang dapat dilakukan dengan gegabah.
  3. Banyak hal memang terkait dengan percepatan pembuatan Yayasan Sahabat Silat dan kinerja nyata Yayasan tersebut; sekaligus men-sinergis-kan antara kerja Forum dan Yayasan, tanpa menjadi kontraproduktif dan tumpang-tindih.

Penutup

Mendirikan sesuatu—meskipun tidak mudah—biasanya lebih gampang daripada merawat dan tetap menjaga staminanya, bahkan mengembangkannya untuk lebihbaik lagi. Namun tidak tepat jika kepesimisan menjadi alasan untuk berkecil hati melihat begitu banyak potensi untuk maju dan terus maju. Begitu juga dengan forum ini; sebuah setapak —dari sekian ribu langkah yang mungkin masih harus ditempuh–, sudah diambil.

Ha ini adalah kemajuan besar. Langkah pertama selalu merupakan hal baik dan mengagumkan, namun langkah-langkah berikutnya lebih merupakan perjuangan, komitment, ketekunanan dan keuletan.

Semoga banyak pihak dapat mengambil pelajaran dari adanya Forum dalam usaha untuk melestarikan pencak silat tradisional di manapun jua..

Dengan selalu ingat akan tujuan (Visi/misi) Forum, dengan selalu berjiwa dengan semangat awal forum (yang ber-kekeluargaan, tulus-ikhlas dan kebersamaan); dan dengan semakin mengobarkan tindakan dan kerja nyata ;

Mari kita sambut tantangan bagi pelestarian pencak silat tradisional ..

dalam kebersamaan, seperti yang sudah kita lalui setahun ini.

Marii..

Jakarta 7 Juni 2007

(pulang dari pelatihan di puncak, masih ngantuk J )

Ian Samsudin

(Tulisan ini didedikasikan sebagai bentuk penghargaan yang tidak daapt terkatakan kepada semua penggiat forum dan juga sesepun yang peduli pada pencak silat tradisional)

www.silatindonesia.com

Sejarah Singkat Silat Bandrong - Banten

Oleh : Nasrudin Attijani

Pada waktu Sultan Maulana Hasanudin dinobatkan menjadi sultan di Banten ( 1552-1570 ), beliau mempunyai seorang patih yang bernama kiayi semar ( Ki semar ), beliau berasal dari kampong kemuning Desa tegal luhur . Sang patih pada hari jum’at selalu izin kepada sultan untuk kembali ke kampungnya karena pada hari tersebut ia berdagang daging kerbau di pasar Balagendong Desa Binuangeun ( dulu Kecamatan ). Pada suatu hari ketika Ki semar sedang berjualan dilapaknya tiba – tiba datanglah seseorang yang akan membeli dagangannya, orang itu bernama Kiayi Asyraf ( Ki Sarap ) tujuannya untuk membeli limpa atau sangket. Tapi oleh Ki Semar keinginan si pembeli di sepelekan karena dianggapnyaorang miskin tak akan mampu membeli sangket yang harganya sangat mahal, padahal Ki sarap sebenarnya ingin untuk membelinya. Karena Ki sarap memaksa untuk membeli sedangkan Ki semar tetap bertahan tidak mau menjualnya, sehingga suasana menjadi tegang, kemudian terjadilah pertangkaran mulut, dan akhirnya terjadilah bentrokan fisik.

Tangan Ki Sarap di kelit ditekuk dibelakang punggung, dan dengan angkuh serta melecehkan, Ki Semar mengatakan “ tak mungkin orang miskin seperti kamu mampu membeli barang daganganku ini”. Ki sarap sangat marah disebut sebagai orang miskin tapi diam saja menahan amarah karena kejadian tersebut di tempat umum. Akhirnya dia pulang dengan tangan hampa tanpa membawa sangket yang diinginkannya, saat pikirannya dipenuhi perasaan tersinggung oleh ucapan Ki semar yang sangat menyakitkan hatinya, kemudian timbulah rencana untuk menghadang Ki semar dalam perjalanan pulang kerumahnya nanti.

Sekitar pukul 10.00 siang ketika itu para pedagang dipasar mulai bubar dan Ki semar mulai beranjak pulang menuju rumahnya di kampong kemuning, ia berjalan tergesa – gesa karena pada hari itu ia harus mengejar sholat jum’at berjamaah. Di tempat yang sepi antara Balagendong dan kampong kemuning, tiba – tiba muncul Ki Sarap di tengah jalan menhadang Ki Semar, saat itu Ki Sarap yang hatinya sudah dipenuhi kemarahan tanpa basa - basi lagi langsung menyerang Ki Semar berusaha membela dirinya sehingga terjadilah adu kekuatan ilmu kemonesan / kesaktian.

Kemudian masing – masing mengeluarkan ilmu ketangkasan dan kehebatannya, memang mereka berdua sama – sama kuat, tangkas dan sakti kanuragan. Perkelahian antara keduanya itu berlangsung sejak jam 11.00 siang sampai jam 18.00 sore menjelang magrib. Ki sarap telah mengeluarkan seluruh kemampuannya, semua jurus, kelit, seliwa kurung, lima pukul, sepak kombinasi, sodok dan seribu satu langkah telah dikeluarkannya. Tapi Ki Semar juga sama tangguhnya, setiap kali kena benturan pukulankeras Ki Sarap, setiap kali itu pula benturannya mengeluarkan suara seperti gendring dan juga mengeluarkan kilatan api dari tubuh Ki Semar.

Begitu pula Ki sarap yang tangguh, beliau menguasai ilmu pencak silat bandrong, tubuhnya sama sekali tak dapat di sentuholeh serangan – serangan Ki semar yang datang beruntun seperti air bah. Pencak silat bandrong sangat ampuh sebab dalam langkah dan jurusnya terdapat banyak versi dan variari pukulan, mampu berkelit dari pukulan atau tendangan musuh, bacokan golok, tusukan pisau atau senjata apapun, seorang pesilat bandrong akan dapat berkelit dengan sangat indah, licin dan gesit luar biasa. Bahkan serangan baliknya sangat membahayakan bagi lawan – lawanya.

Semakin keras serangan musuhnya, semakin keras pula jatuhnya, bahkan pesilat bandrong dapat menawarkan kepada musuhnya ingin jatuh terlentang atau telungkup bahkan terpelanting, hal seperti ini akan membuat musuh – musuhnya kewalahan. Peristiwa itu memang luar biasa, keduanya ternyata sama – sama sakti Ki semar sangat kebal pukulan, Ki sarap sangat licin bagai belut dan tangkas menyerang seperti ikan bandrong yang melesat terbang dan menukik. Ketika alam mulai gelap mendekati waktu magrib, tiba – tiba Ki sarap menghadapkan tubuhnya kearah kiblat kepalanya menengadah kelangit bermunajat dan istighosah kepada Allah SWT, setelah selesai berdo’a terlihat kakaknya yang bernama Ki ragil sedang duduk di pelepah pohon aren yang tinggi, agaknya sudah lma dia memperhatikan pertarungannya.

Melihat itu Ki Sarap pun berteriak ” kakak ! sudah sejak pagi hingga sore aku bertarung melawan orang ini, tapi belum ada yang kalah” . Ki Ragil pun bertanya : ” Apa kamu sudah lelah atau kewalahan ?”, hai adikku, ini ambillah golokku tebaslah leher musuhnmu ” ujar Ki ragil sambil menjatuhkan goloknya. Kemudian Ki sarap mengambil golok itu dan menebas leher Ki semar, dengan sekali tebas kepala Ki semarpun terpental puluhan meter, lalu kepala itu berputar seperti gangsing kemudian menghujam kedalam tanah. Hingga saat ini tempat kepala terkubur yaitu dipinggir sungai di tepi hutan antara balagendong dan kampung kemuning menjadi tempat yang sepi dan kabarnya angker banyak gangguan mahluk halus hingga sekarang ini.

Usai sudah pertandingan hebat itu yang dimenangkan oleh Ki sarap, kemudian masyarakat yang menyaksikan adu kekuatan itu segera mengangkat tubuh Ki semar yang tanpa kepala dibawa kekampung untuk di urus sebagaimana mestinya dan kemudian dimakamkan dikampung kemuning desa tegal luhur. Ter siarnya kabar tentang kematian Ki semar yang saat itu menjabat sebagai senopati tanah banten, merupakan berita yang menghebohkan dan berita itu dibicarakan dihampir semua tempat orang berkumpul membicarakan tentang kejadian tersebut dan sampailah berita tersebut kepada Sultan Maulana Hasanudin di Banten. Mendengar berita tersebut Sultan sangat terkejut dan marah, kemudian memerintahkan kepada punggawanya untuk menangkap Ki Sarap yang di anggap sebagai pembunuh Ki Semar sang senopati Banten.

Sepasukan tentara lengkap segera di berangkatkan ke gudang batu untuk menangkap Ki Sarap yang kemudian dihadapkan kepada sultan karena akan diadakan pengusutan lebih lanjut tentang pembunuhan itu. Selanjutnya atas perintah Sulatan Banten, Ki Sarap di masukkan kedalam penjara dan akan dihukum mati di tiang gantungan. Selama dalam penjara Ki sarap selalu bermunajat kepada Allah SWT untuk mendapat perlindungan Nya, disamping itu juga ia juga mengamalkan ilmu asihannya ( Aji – aji pengasih ) agar dia diampuni dan dikasihani oleh Sultan Maulan Hasanudin. Berkat pertolongan Allah SWT, aji – aji pengasih Ki sarap bukan hanya berpengaruh kepada sultan, tapi juga manjangkau hati sanubari permaisuri Sultan Maulana Hasanudin.

Dalam suatu musyawarah mengenai hukuman yang akan dijatuhkan kepada Ki Sarap, permaisuri Sultan mengemukakan pendapatnya bahwa hukuman mati untuk Ki Sarap sangat tidak tepat dengan alasan :

Ki Sarap dan Ki semar bertarung mengadu kesaktian dan yang hidup adalah karena membela diri sendiri berarti hal itu bukanlah pembunuhan.

Kerajaan Banten sangat membutuhkan orang – orang yang gagah berani, kuat dan banyak ilmunya seperti Ki Sarap untuk menghadapi musuh yang lebih besar lagi, hal ini jelas Ki Sarap lebih kuat dengan berhasilnya dia mengalahkan Ki Semar yang saat itu menjabat Senopati Banten.

Dengan adanya usul permaisuri tersebut Sulatan tidak langsung menerima begitu aja, tapi saran itu di renungkannya lagi dan dimusyawarahkan bersama para pembantu Sultan yang lainnya, dan akhirnya pendapat permaisuri itu dapat di terima oleh Sultan. Selanjutnya Ki Sarap dipanggil menghadap Sultan Maulana Hasanudin dan dijelaskan oleh sultan bahwa hukuman mati untuknya dibatalkan kemudian Ki Sarap diberi tugas untuk menggantikan Ki Semar sebagai senopati Kesultanan Banten dengan syarat harus mau melalui ujian ketangkasan yaitu menembak anting – anting ( gegombel ) tudung permaisuri Sultan tanpa melukainya sedikitpun. Persyaratan tersebut diterima oleh Ki Sarap, walaupun dia tahu resikonya sangat tinggi mengingat dia bukanlah seorang ahli dalam hal menembak.

Ki Sarap meminta waktu selama tiga hari sebelum ujian tersebut dilaksanakan, ia memohon izin agar dibolehkan pulang ke kampungnya di Gudang batu. Setelah sampai di kampungnya, Ki Sarap segera menghadap kepada kakaknya yaitu Ki Ragil dan memberi tahukan masalah yang sedang dihadapinya, maksud Ki Sarap menceritakan tentang ujian dari sultan tersebut untuk meminta petunjuk atau bantuan saran dari kakaknya. Ki Ragil mengatakan ” pergilah dan bawalah benda ini, untuk dimasukan kedalam senapan saat pelaksanaan ujian itu nanti”.

Kemudian Ki Ragil memberi beberapa petunjuk tata cara menembakkan senjata sebagai berikut :

” Jika sang permaisuri berada di daerah timur menghadap ke arah barat, berbaliklah ke arah yang sama dan arahkan senapanmu ke arah barat pula dan jika permaisuri di arah utara menghadap keselatan, maka kamu pun harus demikian pula arahnya”. Setelah semua pesan dari Ki Ragil dimengerti dengan sebaik – baiknya, maka Ki Sarap memohon doa dari kakaknya untuk segera kembali menghadap Sultan Maulana Hasanudin di Banten. Sore hari itu Ki Sarap telah sampai di Banten dan langsung menghadap Sultan, saat itu Sultan Maulana Hasanudin tercengang kagum dan gembira menyaksikan Ki Sarap yang konsekwen dengan permintaan izinnya untuk pulang hanya tiga hari, itupun ditepatinya dengan baik.

Pada hari yang telah ditentukan, tibalah saat yang dinanti – nantikan oleh seluruh masyarakat Banten, karena pada hari itu sultan akan menguji ketangkasan seorang calon Senopati Banten. Di alun – alun kesulatanan Banten, sejak pagi hari masyarakat sudah memenuhi arena tempat pengujian, mereka sangat antusias untuk menyaksikan peristiwa yang sangat menegangkan dan hal ini mereka anggap sebagai peristiwa langka dan belum pernah terjadi. Di tengah – tengah alun – alun sang permaisuri duduk dikursi yang berada disebelah timur menghadap ke arah barat, dengan jarak sekitar 30 meter, Ki Sarap berdiri berhadapan dengan permaisuri. Kemudian Ki Sarap mulai membidikan senapannya ke arah sasaran, tapi secara tiba – tiba dengan gerakan yang cepat Ki Sarap membalikan tubuhnya kearah barat, bidikan senapannya ditujukan ketempat kosong, dengan hati hati dia menarik pelatuknya kemudian terdengarlah letusan senapanya.

Dan apa yang terjadi ? ” ternyata peluru yang ditembakkan tepat mengenai ” gegombel ” kerudung sang permaisuridan terdengar ” pluk” suara gegombel yang jatuh ke tanah tetapi permaisuri Sultan tetap ditempatnya semula tak tersentuh oleh peluru yang ditembakkan oleh Ki Sarap.

Jatuhnya gegombel kerudung permaisuri diiringi oleh suara sarak sorai yang gemuruh dari seluruh masyarakat yang menyaksikannya. Tepuk tangan yang berkepanjangan menggambarkan kepuasan dan kegembiraan masyarakat karena telah memiliki senopati baru yang gagah, hebat dan tinggi ilmunya. Permaisuri menitikkan air mata bahagia karena saran pendapatnya sudah menjadi kenyataan bahwa kesultanan Banten Kini telah diperkuat oleh seorang senopati sakti yang berasal dari daerah Gudang batu yaitu Ki Sarap. Kemudian Ki Sarap diberi gelar kehormatan yaitu ” SENOPATI NURBAYA ”. Senopati Nurbaya yang kemudian dikenal Ki urbaya menjalankan tugas utamanya untuk mengamankan wilayah laut jawa terutama teluk banten dan pelabuhan karang antu.

Beliau bermarkas di ” BOJO – NAGARA ” untuk menghadapi para bajak laut yang mereka sebut BAJAG – NAGARA, para bajak laut itu bermarkas di Tanjung Bajo dan biasanya hasil rampokan mereka disembunyikan atau ditunda dulu di ” Pulo tunda ” sebelum dibawa kedaerahnya masing – masing. Kini tempat – tempat tersebut menjadi terkenal dan namanya dikekalkan dengan peristiwa yang terjadi disana kini menjadi nama yang mengandung kenangan abadi. Selama bertugas di Kesultanan Banten, Ki Patih Nurbaya atau panggilan lainnya Ki Jagabaya atau Ki Jagalaut menjaga wilayah yang dikuasainya sehingga wilayah tersebut menjadi aman dan tentram tak pernah ada gangguan dari para pengacau terutama para bajak laut yang dulu berkeliaran menguasai Laut Jawa dan Teluk Banten. Karena tugasnya selalu menjaga laut, akhirnya nama k\Ki Sarap lebih populer dengan gelarnya : ”KI JAGABAYA” atau ”KI JAGA LAUT”. Dunia terus berputar sejarah berjalan sesuai dengan kehendak tuhan, lama juga Ki Jagabaya menjalankan tugasnya mengamankan daerah yang di amanatkan kepadanya.

Beliau memusatkan pertahanannya di PULO KALIH ( pulau dua ) apabila beliau mengintai musuh dilakukannya dari puncak gunung Santri seban dari tempat ini mudah baginya untuk melihat kearah laut lepas, dapat melihat kapal yang datang dan pergi dari bojonegara dan juga dapat berkomunikasi dengan Pulo kalih dan menara Banten. Ki Jagabaya atau Ki Jaga laut menggunakan isyarat – isyarat bahaya dengan cara sebagai berikut :

Apabila bahaya terjadi disiang hari mereka menggunakan sinar matahari yang dipantulkan melalui cermin.

Apabila bahaya terjadi malam hari mereka menggunakan isyarat kobaran api unggun. Semua itu dilakukan dari puncak gunung santri dan dapat dipantau dari Pulo kalih dan Menara Banten.

Saat usianya menjelang senja, Ki Patih Nurbaya menyadari tentang pentingnya kaderisasi atau generasi penerus. Beliau berniat menurunkan ilmunya terutama ketangkasan khusus yaitu ilmu beladiri ” Pencak Silat Banten” yang disebutnya ” Bandrong” , ilmu itu secara khusus diturunkan kepada putra Sultan Maulana Hasanudin, selanjutnya para punggawa dan prajurit serta murid – muridnya yang berada di pulo kalih dan Gudang batu waringin kurung.

Selanjutnya pendidikan ketangkasan dan kedigjayaan itu dipusatkan di pulo kalih dan dibina langsung oleh kedua kakak beradik Ki Sarap dan Ki Ragil. Disanalah mereka berdua menghabiskan masa tuanya, kemudian setelah dipanggil menghadap Tuhan Nya, mereka berdua dimakamkan di pemakaman umum di daerah Kahal wilayah kecamatan bojonegara. Hingga sekarang tempat itu dikenal dengan sebutan ” MAKAM KI KAHAL” dan alhamdulillah sampai sekarang banyak masyarakat yang datang mengziarahinya terutama para pesilat Bandrong yang saat ini sudah menyebar di lima propinsi di indonesia.

Asal Usul nama Silat Bandrong

Mengingat kesetiaan masyarakat di kawasan gunung santri, Gudang batu, dan Pulo kalih terhadap Kesultanan Banten, maka diresmikanlah Bojonegara artinya Bojone Negara ( istri negara ). Sedangkan silat asli banten diberi nama BANDRONG, diambil dari nama jenis ikan terbang yang sangat gesit dan dapat melompat tinggi, jauh, atau dapat menyerang kerang dengan moncongnya yang sangat panjang dan bergerigi tajam sekali, sehingga ia merupakan ikan yang sangat berbahaya, sekali serang dapat membinasakan musuhnya. Ki Patih Jaga laut atau patih yang selalu melanglang buana menjaga laut, sangat menyukai dan sering memperhatikan ikan tangkas gesit ini dan juga jangkauan lompatan jarak jauhnya dan hal itu benar – benar mempesonanya. Sehingga akhirnya beliau mengambil nama ikan itu untuk memberi nama ilmu ketangkasan beladiri yang dimilikinya dengan nama ” PENCAK SILAT BANDRONG” karena tangkas dan gesit serta berbahaya seperti ikan Bandrong.

JURUS DASAR PADA SILAT BANDRONG

  • JURUS PILIS
  • JURUS CATROK
  • JURUS TOTOG
  • JURUS SELIWA
  • JURUS GEBRAG
  • JURUS KURUNG
  • Gerakan dasar langkah silat Bandrong

Geleng / giling

Cawuk

Wiyak

Rawus

Rambet

Pentil

Keprak

Sendok

Jingjing

Colok

Badug

Tejeh

Pukul

Depok

Goco

Sentak

Sabet

Sepak

Dupak

Dedeg

Bulang baling

Gendong

Gedog

Gunting

Sapu

Sangsut

Gedrig

Sumber – sumber :

” Ngagurat Tapak Leluhur Banten Pencak Silat Bandrong ” , Dewan Pimpinan Pusat Pencak Silat Bandrong

Hasil Wawancara dan diskusi dengan Bapak Satibi dan Bapak Astare sesepuh Bandrong perguruan Padepokan Silat Karang Tunggal, Kp. Karang Dalan Desa Karang Kepuh Kec. Bojonegara – Serang Banten

Riwayat Penulis : Nasrudin

Temtala : Serang, 18 Juli 1979

Alamat : Kp. Luwung Sawo Blok Masjid No.41 Rt.03/09

Kel. Kotabumi Kota Cilegon - Banten

URL : http://silatbanten.multiply.com

Aktifitas :

  • Anggota Forum Pecinta Pelestari Silat Tradisional Indonesia
  • Anggota Forum sahabatsilat.com
  • Anggota Milis Silatindonesia
  • Pengurus Perguruan Silat Padepokan Karang Tunggal Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan
  • Pecinta dan Pelestari Silat Tradisional Banten
Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.